0

Sejarah PRRI di Sumatera Tengah

Posted by herimulyadi on 10/06/2013 in Uncategorized |

Selama awal tahun 1958, Dewan Perjuangan melalui anggota sipil maupun militer berusaha mendekati pihak-pihak Jakarta yang bersimpati kepada mereka untuk merumuskan gagasan reshufle (perubahan) Kabinet Djuanda. Namun tampaknya keadaan di Jakarta sudah tampak berubah. Banyak kawan mereka baik sipil maupun militer, tidak lagi berani bicara karena diancam tangkap dan dipenjarakan.

1. Ultimatum dan Proklamasi Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia

Setelah pintu perundingan nampaknya telah tertutup, akhirnya Achmad Husein atas nama Dewan Perjuangan mengeluarkan ‘Piagam Perdjoeangan Menjelamatkan Negara Repoeblik Indonesia ” yang ditujukan kepada pemerintah pusat yang dibacakan Kolonel Simbolon, hari Senin malam, 10 Februari 1958 dalam suatu pertemuan akbar di Gubernuran Padang.

Mukadimah Piagam Perjuangan itu kemudian dilengkapi dengan sebuah ‘Ultimatum” yang berisi delapan butir tuntutan dan pernyataan Dewan Perjuangan kepada pemerintah pusat dan ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia. Kedelapan Ultimatum tersebut ialah :

1. Menuntut dalam waktu 5 X 24 jam sejak diumumkan, Kabinet Djuanda harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden, dan Presiden mencabut mandat tersebut;

2. Setelah tuntutan nomor (1) dilaksanakan, maka Hatta dan Hamengkubuwono ditunjuk untuk membentuk suatu Zaken Kabinet Nasional menurut ketentuan konstitusi, yang terdiri dari tokoh-tokoh yang sudah terkenal sebagai pemimpin-pemimpin yang jujur, cakap dan disegani serta bersih dari anasir-anasir anti Tuhan. Tugas utama Hatta-Hamengkubuwono adalah :

a. Menyelamatkan negara dari disintegrasi dan kekacauan, dengan kembali bekerja menurut UUDS, menunggu terbentuknya UUD baru oleh Konstituante.

b. Meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi pembangunan bangsa dan negara lahir dan bathin dengan arti yang sesungguhnya.

3. Diminta Hatta-Hamengkubuwono untuk tidak menolak.

4. Supaya DPR dan pimpinan rakyat yang cinta tanah air, memberi kesempatan kepada Hatta-Hamengkubuwono membentuk Zaken Kabinet Nasional yang diberi mandat untuk terus bekerja sampai pemilihan umum (pemilu) yang akan datang.

5. Supaya Presiden Soekarno bersedia kembali pada kedudukannya yang konstitusional dan memberikan kesempatan sepenuhnya dan memberikan bantuan kepada Zaken Kabinet Nasional sampai pelaksanaan pemilu yang akan datang.

6. Apabila tuntutan angka 1 dan 2 tidak terpenuhi, maka akan diambil kebijaksanaan sendiri .

7. Apabila tuntutan angka 1 dan 2 dilaksanakan oleh Presiden, tapi kemudian tuntutan pada angka 5 tidak dipenuhi oleh Presiden, atau apabila tuntutan angka 1 dan 2 dilaksanakan oleh Presiden, tetapi kemudian point 5 tidak dipenihi sejak saat itu, kami (Dewan Perjuangan) terbebas dari kewajiban taat kepada Dr. Ir. Soekarno sebagai Kepala Negara.

8. Supaya rakyat dapat menimbang sebebas-bebasnya kesucian perjuangan kami, Kabinet Djuanda untuk tidak menghalang-halangi penyebaran pengumuman ini. (Mestika Zed,2001 : 269 – 270)

Setelah Piagam Perjuangan selesai dibacakan dan ultimatum disampaikan di Padang. Sehari kemudian Pemerintah pusat (Kabinet Djuanda) langsung mengadakan sidang darurat Dewan Menteri. Pada tanggal 12 Februari 1958 pemerintah melalui radio dan media massa menjawab dengan dengan tegas ultimatum Achmad Husein dan mengeluarkan perintah pemecatan dengan tidak hormat sekaligus penangkapan terhadap Achmad Husein dan kawan-kawan di dalam Dewan Perjuangan.

Ketika Achmad Husein mengetahui bahwa pemerintah pusat menolak tuntutan yang diajukan lewat Piagam Perjuangan tersebut, ia sudah siap dengan tindakan berikutnya. Setelah batas waktu yang ditentukan habis, pada tanggal 15 Februari 1958 Achmad Husein mengumumkan berdirinya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Padang. Proklamasi di Sumatera langsung disambut dengan dukungan penuh oleh Permesta di Sulawesi.

Setelah mengumumkan terbentuknya PRRI, Achmad Husein langsung membentuk susunan kabinet PRRI, Mr. Syafruddin Prawiranegara diangkat sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan, Kolonel Maludin Simbolon sebagai Menteri Luar Negeri, Kolonel Dahlan Djambek sebagai Menteri Dalam Negeri, Mr. Burhanuddin Harahap sebagai Menteri Pertahanan dan Kehakiman, Dr. Soemitro Djojohadikusumo sebagai Menteri Perdagangan dan Perhubungan, dan Mohammad Sjafe’i sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan merangkap sebagai Menteri Kesehatan.

Beberapa orang dari Permesta juga diikutsertakan dalam kabinet PRRI yaitu J F Warrouw sebagai Menteri Pembangunan dan Industri, Letkol Saleh Lahade sebagai Menteri Penerangan, Mochtar Lintang sebagai Menteri Agama, Gani Usman sebagai Menteri Sosial, Letkol H.N.V. Sumual sebagai Panglima Angkatan Darat.

2. Pengaruh PRRI di Riau Daratan

2.1. Pengaruh Terhadap Pemerintahan

Kemelut yang terjadi di Sumatera Tengah yang disebabkan oleh Dewan Banteng secara tidak langsung melibatkan daerah Riau yang pada saat itu berada dalam administrative Provinsi Sumatera Tengah, sehingga dampaknya cukup jelas terlihat pada perubahan system pemerintahan. Ada pun perubahan tersebut adalah :

Ø System pemerintahan sipil berubah menjadi pemerintahan militer, baik saat dikuasai Dewan Banteng maupun saat penumpasan gerakan pembangkangan oleh Dewan Banteng dengan PRRI-nya tersebut.

Ø Terpecahnya system pemerintahan daerah Riau, yaitu pemerintahan daerah Riau versi Dewan Banteng yang berkedudukan di Pekanbaru dan pemerintahan daerah Riau versi pemerintahan pusat yang dikonsentrasikan di Tanjungpinang. Seperti diungkapkan Muchtar Lutfi berikut :

“ Dengan tegangnya suasana di Sumatera Tengah dimana pemerintah telah diambil alih oleh golongan militer yang menyebut dirinya Dewan Banteng, maka daerah komando daerah militer Sumatera Tengah yang dipegang oleh Letnan Kolonel Ahmad Hussein telah mendominir seluruh Riau Daratan, Kepulauan Riau terlepas dari jangkauan mereka. (Muchtar Lutfi,dkk,1998/1999:658)”

Ø System pemerintah menjadi semberaut akibat Riau Daratan telah dikuasai oleh kelompok militer Dewan Banteng. Dominasi Dewan Banteng secara langsung membuat hierarki pemerintah Riau menjadi kacau.

Ø Kemelut yang terjadi membuat semakin kuatnya keinginan masyarakat Riau untuk membentuk provinsi sendiri.

2.2. Pengaruh Terhadap Perekonomian

System pemerintahan militer bentukan Dewan Banteng yang totaliter membuat semua lapangan hidup dan kehidupan masyarakat dikuasai begitu juga halnya dengan perekonomian. Sungai Siak yang sudah sejak lam menjadi pintu keluar masuknya barang tak luput dari penguasaan militer. Para perwira PRRI melakukan perdagangan barter guna memenuhi kebutuhan prajuritnya. Dengan terlibatnya para perwira tersebut dalam kegiatan perekonomian maka praktis ekonomi masyarakat yang ada di Pekanbaru seluruhnya dikuasai oleh Dewan Banteng.

Ekonomi masyarakat mengalami kemajuan karena hasil alam mereka seperti karet dan lainnya ditampung oleh perwira tersebut untuk dijual keluar negeri. Dalam kegiatan perdagangan ini mereka terbebas dari bea, karena jalur perdagangan mereka kuasai secara mutlak, perdagangan semakin lancer sehingga perekonomian masyarakat cukup baik di Sumatera Tengah, sedangkan bagi perwira-perwira itu transaksi yang mereka lakukan menghasilkan keuntungan yang cukup besar.

Namun saat dan setelah pemerintah pusat melancarkan Operasi Tegas guna membebaskan Riau Daratan dari kengkraman Dewan Banteng praktis kegiatan ekonomi menjadi terhenti karena blockade pasukan dari pusat, perekonomian terasa sangat sulit. Kesulitan ekonomi itu dirasakan selama sepuluh hari pelaksanaan Operasi Tegas, karena pasar-pasar dan kedai-kedai menghentikan aktivitasnya, namun lain halnya dengan pegawai negeri mereka tidak merasakan kesulitan itu karena selama pergolakan tersebut perekonomian mereka stabil dan mendapat fasilitas yang cukup.

3. Penumpasan PRRI di Riau Daratan

Pada tanggal 5 Maret 1958, Kaharuddin Nasution mulai menginjakkan kaki di Riau, 7 hari sebelum hari H (12 Maret) memulai operasi, saat memimpin pelaksanaan Operasi Tegas yang telah dipersiapkan di Tanjungpinang, untuk menumpas gerakan separatis Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Moh Hatta atas nama bangsa Indonesia.“Pemerintah kemudian menjawab segala aksi pembangkangan dengan sikap tegas. Letnan Kolonel Kaharuddin Nasution ditetapkan sebagai komandan Operasi Tegas.(Julius Pour,1993:138)”.

Riau merupakan salah satu daerah dikuasai oleh para pemberontak. Penunjukan daerah Riau Daratan sebagai pembuka pelaksanaan Operasi Militer sangat tepat, karena daerah yang kaya minyak tersebut terletak pinggir Selat Malaka yang sangat strategis. Pemerintah pusat merasa khawatir, jika daerah ini terlalu lama dikuasai, Riau bisa dimanfaatkan untuk memperkuat posisi para pemberontak, bila seandainya nanti terjadi proses tawar-menawar dalam mencari penyelesaian politik. Hal ini ditambah lagi dengan adanya desakan yang bernada ancaman dari Pemerintah Amerika Serikat, kalau keselamatan warganya tidak terjamin, maka pasukan marinirnya, United States Marine Corps (USMC) yang sedang berlabuh di pangkalan militer Inggris di Singapura akan ikut terjun campur tangan.

Untuk itu agar Pemerintah Indonesia dapat menjamin keselamatan warganya tersebut yang bekerja diperusahaan minyak California and Texas (Caltex) yang beroperasi di wilayah Riau Daratan. “Howar Palfrey Jones, Duta Besar Amerika Serikat yang baru saja diangkat, sehari sesudah tiba di Jakarta segera menemui Perdana Menteri Djuanda. Jones dengan didampingi oleh seorang pejabat tinggi perusahaan minyak Caltex, mendesak pemerintah Indonesia untuk secepatnya melindungi keselamatan jiwa dan investasi Amerika Serikat di Riau Daratan. Kedua tamu itu juga mengisyaratkan ancaman, jika pemerintah Indonesia memang tidak mampu untuk mengamankan wilayahnya, kesatuan militer Amerika Serikat terpaksa akan membantu menyelamatkan para warganya yang bekerja di tambang-tambang minyak di sana. (Julius Pour,1993:28)”.

Pada tanggal 12 Maret 1958 dini hari, akhirnya turun perintah dari KSAD AH Nasution untuk mulai menggelar operasi militer, setelah ada laporan observasi dari pesawat Catalina TNI-AU yang melihat sebuah pesawat terbang asing memasuki wilayah udara Riau. Sementara di landasan Simpang Tiga ada api-api unggun petunjuk arah, maka KSAD menyimpulkan bahwa pesawat asing itu sedang mengirim bahan-bahan kebutuhan para pemberontak.

Pasukan Kaharuddin Nasution terbagi dalam beberapa pasukan sub komando, yaitu pasukan Dongkrak dan pasukan Kangguru. Dua pasukan sub komando ini merupakan pasukan inti kesatuan Operasi Tegas. Tiap-tiap pasukan sub komando membawahi dua pasukan lagi. Pasukan Dongkrak membawahi pasukan Kalajengking dan pasukan Kancil, sedangkan pasukan Kangguru membawahi pasukan X-Ray dan pasukan Kuat.

Pasukan Dongkrak ditugaskan untuk menduduki wilayah lokasi ladang-ladang minyak di Dumai dan Sungai Pakning sebagai sasaran antara, dalam rangka menguasai daratan Riau agar bisa maju menuju ke Pekanbaru. Sementara pasukan Kangguru yang langsung dipimpin oleh Kaharuddin Nasution diterjunkan ke Landasan Udara Simpang Tiga, agar bisa segera menguasai Pekanbaru. “Letkol Kaharuddin Nasution, Komandan RPKAD (sekarang Kopassus), diterjunkan di pangkalan udara Simpang Tiga Pekanbaru bersama pasukannya untuk memulihkan keamanan di kawasan ini dari situasi perang saudara dengan PRRI. (St Zaili Asril,2002:146)”.

Pasukan Dongkrak bergerak menembus hutan serta berjalan kaki menyusuri sungai untuk merebut Dumai dan Bengkalis dari tangan para Pemberontak PRRI. Pejalanan pasukan ini terasa cukup lambat, karena mereka harus terlebih dahulu mengatasi gangguan alam di sekitar sungai. Terlebih lagi jarak yang mereka tempuh terlalu jauh. Sehingga, pasukan tersebut baru berhasil mencapai daerah sekitar Pekanbaru pada tanggal 14 Maret 1958.

Sedangkan bagi pasukan Kangguru bisa segera tiba di Pekanbaru, karena pasukan ini diterbangkan dari Tanjungpinang dan langsung diterjunkan untuk bisa merebut Landasan Udara Simpang Tiga (Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II sekarang) pada pagi hari tanggal 12 Maret 1958. Siang hari itu juga pasukan di bawah pimpinan Kaharuddin Nasution ini diluar dugaan dapat segera menguasai Pekanbaru, karena pasukan pemberontak tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti dan melarikan diri ke hutan-hutan.

Sementara peralatan-peralatan militer yang canggih dan jumlahnya cukup banyak yang dipasok oleh pesawat asing tersebut untuk pemberontak terpaksa di tinggalkan dan lari menyelamatkan diri dari gempuran pasukan Kangguru. Tercatat tidak kurang dari 80 truk peralatan militer yang berserakan di pinggir Landasan Udara Simpang Tiga. Peralatan militer itu terdiri dari senapan laras panjang Gerand, Springfield, Recoilless dan Bazooka.

Setelah penyerbuan ke Simpang Tiga, hanya dalam waktu lebih kurang tujuh jam, Kaharuddin Nasution bersama pasukannya sudah berhasil membebaskan Simpang Tiga dan Pekanbaru. Usaha pembebasan kemudian dilanjutkan ke Bangkinang, Lipat Kain, Bagan Siapi-api, dan Pasir Pengaraian. Akhirnya dapat dibebaskan pada tanggal 19 Maret.“Pasukan-pasukan TNI menguasai Pekanbaru di bawah Pimpinan Letnan Kolonel Kaharuddin Nasution dan Letnan Kolonel (U) Wiriadinata. (AB Lapian,1996:214)”.

Setelah tempat-tempat tersebut di atas berhasil dibebaskan, kemudian pasukan penggempur terus bergerak maju ke sasaran lain seperti ke Rengat, Lirik, Air Molek, dan Lapangan Terbang Japura yang kemudian dapat dibebaskan tanggal 22 Maret. Sebelum dapat membebaskan Rengat pasukan APRI mendapat perlawanan dari dua kompi pasukan pemberontak yang melakukan taktik bumi hangus, namun dapat digagalkan.

Melihat kegagalan-kegagalan itu, para pimpinan pasukan pemberontak menarik mundur seluruh bala tentara-tentaranya dari Bangkinang dan mengkonsolidasikan kekuatan di Lubuk Jambi. Di daerah ini sangat baik untuk pertahanan karena keadaan alam yang berbukit-bukit disepanjang jalan ditambah lagi dengan lebarnya batang Kuantan, sehingga memungkinkan tentara-tentara PRRI membuat kubu-kubu pertahanan yang tangguh.

Hal ini tentu sangat menyulitkan Tentara APRI untuk menumpas Para pemberontak. “Garis pertahanan PRRI di Lubuk Jambi terletak di sepanjang Batang Kuantan yang memanjang dari Batang Antan (Kinali) ke Banjar Guntung dengan jarak lebih kurang 4 Km dan melebar sejauh 1 Km. Dalam areal ini dibuat kubu-kubu pertahanan menghadap ke seberang Batang Kuantan, di mana terletak jalan Lubuk Jambi-Taluk Kuantan. Untuk mendekati kubu pertahanan PRRI itu tidak mungkin, sebab dibatasi oleh Batang Kuantan selebar lebih 100 meter. Alat penyeberangan sudah mereka hancurkan . (Muchtar Lutfi,Eds, 1998/ 1999: 681)”.

Dengan kenyataan yang demikian sangat tidak mungkin untuk menghancurkan kekuatan pemberontak dalam waktu singkat, terlebih lagi daerah di belakang garis pertahanan PRRI tersebut terdapat pegunungan yang memanjang sampai ke Bukit Barisan yang ditumbuhi hutan lebat sehingga tidak mungkin untuk menerjunkan pasukan tentara payung. Namun tekad pasukan APRI yang tidak mengenal kata tidak mungkin, terus berusaha untuk menembus pertahanan pemberontak yang amat rapat tersebut. Dengan berbekal semangat juang yang tinggi dan pengalaman serta keahlian berperang, maka pasukan Raider dan RPKAD terus bergerak maju walau terasa agak lambat. Pada tanggal 1 April 1958 kedua pasukan APRI ini menyiasati dengan serangan melambung ke daerah pertahanan pemberontak dengan menyeberangi Batang Kuantan bagian hilir dan hulu dari pertahanan tentara PRRI.

Pada tanggal 2 April pagi dilakukan pengepungan. Tetapi pengepungan ini tidak dapat sepenuhnya karena pertahanan pemberontak yang terlalu luas. Dengan gempuran yang bertubi-tubi dari darat dan dari udara akhirnya pertahanan tentara PRRI pun berantakan. Untuk mencegah lolosnya pemberontak yang melarikan diri, dilakukan pencegatan dari lambung kiri dan kanan. Pada saat pencegatan inilah terjadi perjuangan yang heroik yang dilakukan oleh komandan kompi A RPKAD, Kapten Fadillah. Kapten Fadillah menunjukan keberaniannya dengan tidak menghiraukan desingan peluru di kiri kanannya. Kapten Fadillah maju ke arah musuh dengan maksud untuk mencegah lebih banyak lagi pertumpahan darah dengan mengajak musuh menghentikan peperangan. Namun maksud ini dijawab oleh musuh dengan tembakan sehingga Kapten Fadillah gugur dan sempat mengucapkan “Selamat Berjuang”.

Dengan gugurnya Kapten Fadillah ini membuat semangat tempur pasukan APRI menyala-nyala. Sehingga keesokan harinya tepatnya tanggal 3 April 1958 pertahanan pasukan PRRI dapat dilumpuhkan dan direbut. Dengan jatuhnya pertahanan pasukan PRRI di Lubuk Jambi maka secara kasat mata kekuatan PRRI di Daratan Riau sudah tidak ada lagi, tinggal dilakukan operasi pemulihan keamanan terhadap satu dua tentara PRRI yang berhasil melarikan diri ke hutan-hutan.

source: http://zeprihidayat.wordpress.com/2008/07/08/5/

0

Penerima Beasiswa PPA dan BBM dari FMIPA

Posted by herimulyadi on 17/05/2013 in Uncategorized |

Bagi Mahasiswa yang telah keluar Surat Keputusan Rektor tentang Penerima
Beasiswa PPA/BBM harap melihat namanya dan datang pada jadwal PENANDATANGAN AMPRAH,
di Rektorat UR, yakni pada hari:
-SENIN/ 20 Mei untuk Beasiswa PPA
– SENIN/ 27 Mei untuk Beasiswa BBM
PPA:
408 Antony Wijaya 1003112988 L
409 Fransisca 1003113519 P
410 Novia Yumitha Sarie 903121216
411 Fera Anggelina 1003121319 P
412 Dewi Sartika 903121274 P
413 Ifronika 903114080 P
414 Sri Indra Belatiwi 1103120750
415 Annisa Indah Reza 1103120393
416 Roslina Fauziah 1103120753 P
417 Trisno Afandi 1103120479 L
418 Ayu Kumalasari 1203113440 P
419 Febry Kurniawan 1003121304 L
420 Ivo Mayasari 1003121343 P
421 Anggi Swita 903120553 P
422 Rozalia 1003113320 P MIPA
423 Michael Tan 1103113918 P
424 Rani Yuniati 1003113480 P
425 Karmila 903114141 P MIPA
426 Ayunda Putri 1003113445 P
427 Deni Afrianti 903135756 P
428 Denaria Oktavia 1103113856 P
429 Adhe Afriani 903132850 P
430 Fifira Safitri 1003113403 P
431 Retno Sari 1103113912 P
432 Arif Kurniawan 1103111960 L
433 Githa Fitrillisia 903121162 P
434 Poppy Hanggreny 1003135289 P
435 M Adi Zulkifli 1003120627
436 William 1203021146 L
437 Habibah L. Tobing 1103035438
438 Dian Fauzia Rahmi 903132951
439 Lenggo Geni 1003033801 P
440 Winda Nurwidya 1003121422 P
441 Agustina Siregar 903121286 P
442 Desi Nopitasari S 903135770
443 Meli Misnawati 903121217 P
444 Dian Mayasari 1203113458 P
445 Ririn Sari Wati 1103111894
446 Suryani 1003121341 P
447 Rika Nofrita 1103020310 P
448 Susiyani 903121245 P
449 Iswadi Idris 1003021440 L
450 Muhammad Asnawir 1103113895 L
451 Indah Permata Sari 1103021144
452 Novita Damayanti 1103120359 P
453 Hanifah Yuliani 1103135488 P
454 Iska Lestari 1203121098 P
455 Jeinta Marbun 1203021045 P
456 Nurun Fiizumi 903114088 P
457 Lutfi Rindang Lestari 1003135506
458 Muhammad Anshori 1103035411 L
459 Siti Suryani 1003133586 P
460 Fatimah Rahayu 1203121148 P
461 Herlina Marbun 1003133680 P
462 Sadam Husein 1103036384 L
463 Fiola Reviola 1003121289 P
464 Rudhinal Azfar 1203036103 L
465 Ronaldo Junior 1203113537 L
466 Mayang Eka Novindasari 1203113514
467 Wilia Satria 1203021054 P
468 Efi Suzana 1203121017 P
469 Dori Fitria 903135820 P
470 Romadona 1003135725 L MIPA
471 Danu Aditya 1003121408 L
472 Susi 1003121314 P MIPA
473 Dini Ramadani 903121163 P
474 Assabraini 903121426 P MIPA
475 Gusyeri Andika 1103111900 L
476 Martha Rianna 1103111982 P
477 Ulfa Fauziah 1203121185 P
478 Martha Sri Pramadani 903121368
479 Habib Dyatama Praja 1203121094
480 Muhammad Sarip 903121378 L
481 Nur Asyiah Wulandari 1103136645
482 Yaya Pradita 1203113489 P
483 Doni Susanto 1103113969 L
484 Sonya Frisilla 1203113488 P
NO NAMA NPM L/P FAKULTAS
485 Rosalina Margaretta 903121400 P
486 Novita Theresia 1103113920 P
487 Repi Hasari 1203136108 P
488 Yudhistira Utama 1203021190 L
489 Riskyfitri Firmanda 903135975 P
490 Dwi Wahyuni 903114103 P

BBM:
1482 Dian Ratu Pritama 1203121028
1483 Trisno Prasetyo 1203021013 L
1484 Sri Yuliana 903114240 P
1485 Widya Rachmi 1003121358 P
1486 Tresa Nia Pratiwi 1103113980
1487 Eka Ceria 1003121434 P
1488 Reinhard Sianipar 1103135422 L
1489 Dian Permata Sari 1003121330
1490 Nur Aisyah Aminy 903114269
1491 Yolla Putri Ardila 1003113311
1492 Suci Riska Wahyuni 903121256
1493 Lelani 903114254 P
1494 Ilham 903135881 L
1495 Nurmi Hasbi 1003121447 P
1496 Nur Aisyah Amin 1103113953
1497 Christina Panjaitan 903132495 P
1498 Nurul Hidayu 1103121236 P
1499 Siska Sri Wahyuni 1103113919
1500 Jasmadi 1003121350 L MIPA
1501 Maftuhin 903121321 L
1502 Romendiana 1003135393 P
1503 Eka Swastika AP 903121271
1504 Ilis Mini 903114194 P
1505 Nopeko 1003033603 L
1506 Siti Rahayu 903121298 P
1507 Antika Fardilla 1103113898 P
1508 Saziati Fauzi 903114278 P
1509 Delpi Pebriandi 1103114110 L
1510 Yulia Aswinda 1203021027 P
1511 Yanto 903121272 L
1512 Lucia Rawati 903114062 P
1513 Suci Wasi Lestari 1203021129
1514 Deasy Lania Pratiwi 903114130
1515 Tugirin 1103120986 L
1516 Naharul Fitri 903121366 P
1517 Tintus Febriani 1003033554 P
1518 Ike Yuliana 903114157 P
1519 Siti Agustina S 1003135337
1520 Ajeng Ayu Asthary 903114282
1521 Rizki Wulandari 1003135678 P
1522 Anna Aswari 1003021365 P
1523 Andi Fitriawan 1203021160 L
1524 Rio Kurniawan 1003113481 L
1525 Ria Fitriani 1203113498 P
1526 Agustin Anggrayani 903135841 P
1527 Dian Anggraini 1003135303 P
1528 Wirdatul Jannah 1003121348 P
1529 Juliana Siregar 903114206 P
1530 Kiswati 1103113876 P
1531 Julia Murni 903121057 P
1532 Sarlismi 903114315 P
1533 Gunawan 1103020765 L
1534 Iksan Ardi 903114196 L
1535 Agustino 1103120341 L
1536 Syamsul Rizal 903121374 L
1537 Yuliani 1003133609 P
1538 Widia Rahim 1003113299 P
1539 Mira Hidayati 1103121364 P
1540 Nice Masculen 903121252 L
1541 Edo Furnando 1003121366 L
1542 Alan Perdana Aritonang 1003113223
1543 Susi Supriani 1003121393 P
1544 Muhammad Radil 1003113316 L
1545 Nelvi Damayanti 1003121375 P
1546 Siska Yuliati 1003121149 P
1547 Eka Parmila Sari 903121283
1548 Sartina 1103111851 P
1549 Sa’adilah Aiman 1103120355 L
1550 Rizki Hidayatullah 1103035542 L
1551 Yon Fajri 1003113221 L
1552 Junaidy 903121204 L
1553 Sakinah 903132925 P
1554 Sri Handayani 1003133527 P
1555 Alhusnalia Ramadhani 1003135720 P
1556 Zelviana 1003120570 P
1557 Ulva Cahya Putri 1003021411
1558 Eka Afriyani 1103111825 P
1559 Candro Bergaul 1003113470 L
1560 Khusnul Khotimah 1203121005 P
1561 Rendi Ilham 1003134815 L
1562 Risma Rio Pratiwi 1003135308
1563 Siti Maysaroh 903114242 P
1564 Lely Jusnita 1003121380 P
1565 Nurul Aini 1203036179 P
1566 Maya Arumaisha 1103120870 P
1567 Suci Novri Yelti 1003121435
1568 Edi Prayitno 1003121310 L
1569 Rutmayanti Pandiangan 903114137 P
1570 Nurfa Mufrida 1203135204 P
1571 Irvan Rahmat 903121367 L
1572 M. Paiszal 1103113956 L
1573 Putri Susanti 903135680 P
1574 Gita Rahayu 1103111904 P
1575 Tri Endah Tresna Sari
1576 Suji Isnaini 1003021441 P
1577 Endah Mulyani 1103113873 P
1578 Abdul Akhyar 903114301 L
1579 Fitri 1003021322 P
1580 Sinta Yulia Hawari 1103113952
1581 Yurisda Nur Ain 1203113519
1582 Nor Sa’diah 1203036175 P
1583 Desy Lupita Sari 1203113528
1584 Yerianda Mei Faliga
1585 Fitri Yanti 1003121454 P
1586 Sari Umayah 1103113967 P
1587 Ari Setiawan 1203021162 L
1588 Eca Fitriani 1103120559 P
1589 Arianto 1003021428 L
1590 Annesa Auliya 1203136250 P
1591 Alvina Zalni 1203036228 P
1592 Dadang Kurnia Putra 1103114022
1593 Watini 1003033903 P
1594 Jeri Wardana 1003113361 L
1595 Peri Desko Putra 1203121014
1596 Hafizul Halim 1003121352 L
1597 Ahmad Arvint 1003133637 L
1598 Yugo Setiawan 1003113256 L
1599 Lita Lestari 1103136514 P
1600 Rahmad Efendi 903135818 L

Sekian untuk dilaksanakan.
TTD. Kemahasiswaan MIPA

Copyright © 2012-2017 Heri Mulyadi All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.5, from BuyNowShop.com.