Orang Rimba Sekarang Memakan “Dewa”nya

Posted by herimulyadi on 13/03/2015 in Uncategorized with Comments closed |

Keberadaan Orang Rimba atau Suku Anak Dalam Jambi terancam. Kelaparan kini jadi hantu menakutkan bagi mereka. Hutan yang menjadi sumber kehidupan, sudah tak lagi menyediakan banyak makanan dan air. Beralih fungsi, jadi hamparan kebun kelapa sawit.

Sejak Desember 2014, sudah 11 Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas meninggal akibat kelaparan. Mereka berasal dari Kelompok Terap yang dipimpin Tumenggung Marituha, Tumenggung Ngamal, dan kelompok Serenggam yang dipimpin Tumenggung Nyenong.

“Sungguh ironis, mereka kelaparan karena perbuatan dari saudara mereka sendiri yang membabat habis hutan tempat mereka mencari makan,” ujar aktivis Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Robert Aritonang, Kamis 12 Maret 2015.

Kematian beruntun paling banyak terjadi pada Januari dan Februari dengan enam kasus kematian, yaitu empat anak-anak dan dua orang dewasa.

Menurut Fasilitator Kesehatan KKI Warsi, Yomi Rivandi, dugaan sementara kasus kematian beruntun pada Orang Rimba disebabkan karena kesulitan untuk mendapatkan pangan yang layak, serta ketersediaan air bersih.

“Hutan semakin sempit, sehingga Orang Rimba tidak lagi melangun ke dalam hutan, namun ke pinggir-pinggir desa dan ladang masyarakat. Tentu saja di kawasan ini akan sedikit bahan pangan yang biasa didapatkan Orang Rimba dari berburu dan meramu hasil hutan,” kata Yomi.

Melangun adalah tradisi berpindah-pindah tempat bagi warga Suku Anak Dalam. Jika ada anggota keluarga Suku Anak Dalam meninggal dunia, maka mereka akan pergi meninggalkan tempat tinggalnya ke tempat lain.

Kerajaan Siak dan Peninggalan Empat Datuk

Posted by herimulyadi on 26/06/2013 in Uncategorized with Comments closed |
Tim Bandar Senapelan Heritage baru-baru ini berhasil mendata benda-benda peninggalan Kerajaan Siak di Pekanbaru, Riau dan hasilnya ditemukan 42 situs cagar budaya yang menjadi situs peninggalan sejarah.
Situs sejarah tersebut menjadi temuan yang bukan pertama kalinya. Sebelumnya juga ada beberapa situs sejarah peninggalan Kerajaan Siak yang ditemukan namun dibiarkan begitu saja,” kata Irasman Idris dari Dewan Penasehat Pengelola Masjid Raya Pekanbaru, Minggu.
Sebanyak 42 situs sejarah peninggalan Kerajaan Siak itu kata dia, diantaranya yakni Komplek Makam Marhum Pekan yang berada di kompleks Masjid Raya Pekanbaru.
Kemudian kata dia, yakni makam pendiri Pekanbaru beserta kerabat Kerajaan Siak abad ke-18 dan Tapak awal Masjid Nur Alam Jalan Masjid Raya Pekanbaru.
Situs lainnya yakni Makam Datuk Tanah Datar, Makam Datuk Bandar Abdul Jalil Gubernur Provinsi Negeri Pekanbaru Kerajaan Siak, Rumah Tuan Qadi Sultan Siak H Zakaria bin Abu Bakar di Jalan Perdagangan, Jembatan Penyeberangan ke Tapak Jembatan Phontoon Caltex yang berfungsi sebagai buka tutup jembatan, serta Terminal tertua di Pekanbaru.
Selanjutnya yakni sumur tua Masjid Nur Alam yakni sumur yang dibangun bersamaan dengan Mesjid Nur Alam, dan mimbar Masjid Raya Pekanbaru yang merupakan salah satu dari empat mimbar masjid yang dibuat semasa Kerajaan Siak dengan keterangan tulisan Arab Melayu di bagian atasnya.
Kemudian ada juga sebuah gerbang Masjid Raya Pekanbaru dibangun pada tahun 1940, tiang enam Masjid Raya Pekanbaru yang merupakan simbol Empat Datuk Kerajaan Siak dan dua imam dan qadi,” katanya.

Adapun situs sejarah lainnya, yakni rumah keluarga H Yahya yang dibangun sejak tahun 1898, Rumah Honolulu di Jalan Senapelan, Surau Irhash, tapak sejarah markas besar pejuang tentara Fisabilillah pada zaman perang kemerdekaan, rumah Tuan Qadi Sultan Siak H Zakaria bin Abu Bakar di Jalan Senapelan, rumah tempat pembentukan Serikat Dagang Islam Cabang dan Koperasi Serikat Islam Kerajaan Siak, dan Makam Imam H M Taher yang merupakan imam Districkholf Kerajaan Siak.
Lalu ada lagi yakni makam perintis Kemerdekaan Indonesia asal Riau H M Amin yang juga pendiri Serikat Dagang Islam 1916 dan Koperasi Serikat Islam Cabang Kerajaan Siak di Pekanbaru 1917 serta sejumlah situs sejarah peninggalan Kerajan Siak lainnya,” kata dia.
Seluruh situs sejarah tersebut kata dia, kemudian dikirimkan oleh tim ke Batusangkar, Sumatra Barat, untuk ditetapkan sebagai benda cagar budaya yang sah dan diakui secara nasional.
Dia mengatakan, pihaknya bersama tim sebelumnya juga telah melakukan berbagai upaya untuk “mencium” adanya sejumlah situs sejarah tersebut.
Dengan pengakuan resmi situs sejarah ini, demikian Irasman, diharapkan akan lebih memperkenalkan peninggalan Kerajaan Siak di Pekanbaru ini secara nasional maupun internasional.
Selama ini benda cagar budaya yang diduga situs sejarah peninggalan kerajaan Siak dibiarkan dan tidak diurus. Makanya untuk mengenang kembali peninggalan kerajaan Siak ini, kami memutuskan untuk melakukan penggalian dan menghak patenkannya,” katanya. (*/jno)

Copyright © 2012-2024 Heri Mulyadi All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.5, from BuyNowShop.com.